Jumat, 24 April 2020

Bulbul 2nd

2 minggu sebelum mens, badan rasanya gak enak, kayak lemes banget. Mungkin masih efek capek setelah pulang dari Singapura. Tapi payudara tiba-tiba sakit banget, kayak bengkak, rasanya sama kayak waktu proses sapih Ipo dulu. Mungkin efek perubahan hormon sebelum mens. Beberapa hari terasa seperti itu tapi denial terus. Lucunya Pabeb yang kekeuh bilang, "ini kayaknya kamu hamil". Dan aku yang selalu denial, emang belum waktunya mens, kan harusnya minggu depan mensnya.

Rabu, 08 April 2020

Tips Sederhana Saat Berkunjung ke Singapura 2020


Beberapa tips mungkin sudah masuk di artikel lengkap jalan-jalan keluarga biAsha ke Singapura, tapi bentuknya kayak curhatan di buku diary yang tulisannya panjang kali lebar. Jadi aku coba rangkum beberapa tips nya disini terpisah dan lebih singkat.
Semoga bermanfaat buat orang-orang yang pertama kali ke Singapura kayak aku.

1. Cari diskonan

Sering-sering update promo diskon dari berbagai maskapai dan aplikasi ticketing. Karena gak semua maskapai ada di aplikasi ticketing, kayak Airas*a yang punya website dan aplikasi khusus diluar aplikasi ticketing, padahal sering banget ngasih tiket promo. Kalo tanggal pergi dan pulangnya pas di tanggal-tanggal dengan diskon, wah kalian bisa dapet tiket setengah harga biasanya lho.
Kalo di aplikasi ticketing seperti Travel*ka, kalian bisa gunakan kode promo yang mereka bagikan saat ada momen-momen tertentu. Seperti kami yang pake diskonan dalam rangka perayaan Imlek. Biasanya bisa dapet diskon bahkan cashback. Apalagi kalo belinya tiket PP + hotel, lebih banyak diskonnya.

2. Pertama sampai di Bandara Changi

Saat akan keluar melalui Imigrasi, jangan lupa ambil kertas putih yang sudah disediakan di dekat dinding. Jangan terlena dengan bagusnya Changi airport, sibuk selfie foto-foto akhirnya ke Imigrasi gak bawa berkasnya. (Itu kami 😂🤣)
Form berisi data diri kita orang asing yang masuk ke negara Singapura. Kalo gak bisa bahasa inggris tenang aja, disitu juga disediakan terjemahan form dalam berbagai bahasa, kita tinggal lihat terjemahan dengan bahasa melayu yang masih mirip-mirip sama bahasa Indonesia.
Nama, Nomor Paspor, Tempat Tinggal, Tempat Tinggal di Singapura (biasanya nama hotel, tapi karena kami tinggal di apartemen jadi kami tulis alamat apartemennya), Dari Kota mana, Akan Ke Kota mana (mungkin bagi yang masuk Singapura untuk negara transit aja, karena kami memang tujuannya cuma ke Singapura jadi ya ditulis dari JAKARTA, setelah dari Singapura ke JAKARTA.)
Setelah semua terisi, baru deh lewat bagian Imigrasi untuk diperiksa form yang sudah diisi tadi, paspornya, kemudian cap dua jempolnya.
Untuk yang bawa anak biasanya diminta untuk digendong karena pegawai Imigrasi ingin lihat jelas muka anaknya sama gak sama yang di paspor.
Keluar dari Imigrasi, petugas akan kasih sobekan formnya seperti ini, dan harus disimpan selama kita ada disana.
Oiya, yang beda di tahun 2020 ini ada jalur khusus untuk pendatang yang dari atau transit di negara-negara tertentu terkait pandemic virus Corona atau Covid-19. Bagi pendatang dari negara China, Iran, Italy, dan Korea Selatan (ataupun sempat transit dari negara tersebut), harus melalui jalur khusus di Imigrasi, yang mungkin akan di tes kesehatannya dan lain-lain.

3. Menuju Jewel Changi Airport

Jewel Changi letaknya berada di terminal 1, jadi kalo pesawat kalian turun di terminal 2 dan 3 tinggal cari aja jembatan penghubung ke terminal 1 yang cuma berjarak 5-10 menit jalan kaki (tenang ada eskalator jalan juga kok biar gak capek-capek). Kalo turunnya di terminal 4 ada shuttle bus gratis untuk ke terminal 1.
Letak Jewel Changi paling ujung kiri, jadi kalo keluar dari kedatangan cari aja jalan ke kiri terus sampe mentok, nanti baru kelihatan petunjuk arahnya.

4. Kendaraan keluar dari bandara

Waktu itu kami lebih memilih pakai Grab untuk menuju ke hotel karena belum tau situasi. Biaya sekitar $20 SGD dari Changi ke hotel kami yang ada di Orchard Rd.
Sebenarnya ada shuttle bus dan stasiun MRT langsung dari Changi, letaknya di dekat lift menuju Jewel, nanti ada tanda Train to City dan Bus to City.

5. Kartu dan Biaya Transportasi

Bagi pemilik akun bank Jenius, kartu debit Jenius bisa dipakai untuk kartu transportasi di Singapura baik bus ataupun MRT. Tapi tidak bisa digunakan untuk naik shuttle bus ke Singapore Zoo dan monorail Sentosa Express, dan special bus lainnya.
Untuk biayanya tergantung jarak ya, dan yang tertulis disitu total biaya transportasiku selama sehari-hari, baik itu naik bus ataupun MRT. (Yang tertulis sudah total dalam sehari)
Bagi yang gak punya, kalian bisa mengurus kartu transportasi untuk turis di kantor tiket yang ada di beberapa stasiun MRT. Atau beli aja kartu EZ Link yang bisa digunakan dimana aja.
Waktu itu sudah mau ngurus tiket untuk anak, tapi sama petugasnya dibilang gak usah, cukup digendong aja atau ditaruh di stroller. Kami mengurus tiket anak karena kalo di Indonesia Ipo sudah kena tiket sendiri untuk naik KRL, MRT dan bus transjakarta, karena tinggi badannya, eh ternyata disini belum kena biaya. Di Singapura anak dibawah umur 7 tahun masih gratis biaya.
Untuk Shuttle Bus ke Singapore Zoo, bagi yang kartunya gak bisa dipake kalian tetep naik aja karena supir tidak menerima uang cash. Nanti waktu akan balik ke Stasiun Khatib, kalian bisa beli tiket shuttle bus di mesin tiket yang tersedia di tempat pemberhentian bis nya, harganya cuma $1 SGD/orang.
Menuju Sentosa Island ada monorailnya sendiri yaitu Sentosa Express. Kalo gak ada EZLink kalian bisa beli tiketnya di Vivo City (mall) seharga $4 SGD/ orang, dan bisa dipake seharian.

6. Naik Transportasi 

Cara Naik Bis dari pintu depan ya yang ada pak sopirnya, nanti tinggal tap kartu debit/kartu transportasi di mesin tap yang ada di dekat pintu. Saat akan turun pencet dulu tombol yang ada di tiang-tiang dalam bis (gak usah bilang "kiriiii paak" 🙈). Nanti bis akan berhenti di pemberhentian bis selanjutnya, gak bisa berhenti di tempat-tempat seenaknya ya, naik dan turun tetep di bus-stop. Saat akan turun, tinggal tap lagi kartunya di mesin tap yang ada di pintu keluar atau pintu belakang. Oiya, mesin tap nya ini ada dua di kanan kiri masing-masing pintu, jadi gak perlu antri lama deh kalo mau keluar masuk bis, tinggal pilih aja mau tap ke mesin yang mana.
Pastikan kartu kalian tertempel dengan benar, biasanya akan muncul tulisan "Have a nice day", berarti itu berhasil. Karena suami sempet waktu keluar bis kartunya gak ter-tap dengan benar tapi bis nya keburu pergi, jadi biayanya dihitung dengan biaya rute terjauh.

Untuk naik MRT, seperti kalo naik KRL atau MRT biasa. Tap kartu debit/kartu transportasinya di pagar pintu masuk, tinggal cari jalur yang akan dituju, kemudian tunggu keretanya deh. Kartunya di tap lagi di pagar pintu keluar.
Memang agak ruwet ya jalur transportasi di Singapura ini, banyak jalur, tapi justru bisa dipelajari dengan mudah karena diatur sedemikian rupa agar penumpang dari dalam maupun luar negeri gak bingung. Bagusnya setiap tujuan punya jalur berbeda-beda, tinggal cari sesuai warnanya. Bahkan stasiun MRT sampe punya 3 basement karena 1 basement cuma untuk 2 jalur kereta, kalo 1 stasiun dilewati 6 jalur ya berarti ada 3 basement. Beda sama disini ya, yang harus nyari dulu kereta yang kemana ada di jalur berapa, tandanya pun cuma di depan kereta, ya gitulah pokoknya. (Gak pernah berani naik KRL dan MRT sendiri di Jakarta karena pasti nyasarnya 😭).

Bis pun begitu, setiap pemberhentian bis punya jalur sendiri-sendiri. Jadi hampir gak pernah naik bis di halte yang sama karena tujuannya memang beda-beda (walaupun di dekat apartemen ada bus stop, tapi masih harus jalan dulu ke bus stop yang lain). Setiap bus stop nanti ada papan tulisan bis nomor berapa aja yang akan lewat situ dengan tujuan kemana aja, tinggal menyesuaikan mau naik bis nomor berapa.
Untuk lihat mau naik MRT jurusan apa dan Bis nomor berapa, kalian tinggal cari aja di gmaps atau peta yang tersedia di bandara (kalo bisa baca peta. Kalo aku gak bisa 😭). Di gmaps lengkap banget, tinggal masukkan tujuan, nanti akan ditunjukkan kalian harus jalan berapa meter, ke bus-stop yang mana, naik bis nomor berapa, bahkan bisnya akan datang berapa menit lagi. Begitu juga kalo ingin naik MRT, di gmaps akan ditunjukkan kalian harus ke stasiun mana, naik kereta yang jurusan apa dan warna apa, harus transit di stasiun apa, dan juga kereta datangnya berapa menit lagi.
Warga Singapura emang terkenal disiplin ya, mereka sudah terbiasa menunggu lampu pejalan kaki bewarna hijau untuk menyeberang walaupun sepi, begitu juga naik turun bis harus dari pintu yang sesuai, begitu juga di dalam bis dan MRT lho. Di dalam bis maupun MRT tersedia bangku khusus prioritas, tapi walaupun penuh mereka gak ada yang seenaknya aja tuh duduk di bangku prioritas. (beda banget ya sama disini 🤭) Bahkan orang tua yang merasa dirinya kuat pun lebih memilih berdiri walaupun kursinya kosong, jadi biar gak malu kalo salah duduk dilihat bener ya tanda di tempat duduknya, biasanya bangku prioritas bewarna beda. Tidak seperti di Indonesia yang bangku prioritasnya ditaruh di pojokan gerbong aja, tapi di Singapura bangku prioritas ada di setiap deret tempat duduk, yang membedakan hanya warnanya saja.
Ada yang beda di Grab Singapura, yaitu ada biaya tambahan kalo supir nunggu penumpang terlalu lama diatas 5 menit. Kebiasaan di Indonesia yang nunggu supir Grab lama banget (waktu keluar bandara Changi pun nunggu agak lama),  jadi kami pesan saat masih di dalam apartemen. Ternyata supir Grab sudah ada di depan apartemen, jadi waktu turun dan keluar apartemen lebih dari 5 menit, alhasil kena tambahan biaya $3 SGD. Jadi sebaiknya kalo mau pesan Grab kalo kalian sudah siap di depan tinggal naik.

7. Penginapan

Kalo kalian backpaker sendiri ataupun rombongan dengan low budget, banyak penginapan, hostel dan hotel yang menawarkan harga murah tapi model capsule gitu. Cuma ruangan sempit dengan satu kasur tapi lengkap fasilitas dan kamar mandinya diluar atau dipakai bersama. Atau model dormitory yang satu kamar banyak kasur, jadi bisa sekamar dengan turis lain.
Sebenernya gak masalah sih ya modelan
begini karena emang cuma buat tidur sebentar karena bakal banyak jalan-jalannya. Tapi karena ada anak, jadi lebih cari hotel dan apartemen.
Hari pertama kami di hotel dulu karena seperti yang sudah kubilang tadi, kalian bisa dapat potongan harga kalo beli tiket pesawat + hotel.
Alasan memilih apartemen seperti yang sudah pernah diceritakan, karena butuh fasilitas dapur, mesin cuci dan setrika. Kami seharusnya berlima, jadi lebih enak dan menyenangkan kalo bisa tinggal serumah.
Dengan adanya fasilitas kami bisa menghemat bawa baju karena bisa dicuci, disetrika, kemudian dipakai lagi. Juga menghemat biaya makan karena bisa masak sendiri, ya minimal masak mie instan yang dibawa dari Indonesia atau beli disana. Atau juga bisa memanaskan makanan yang dibawa dari Indonesia dengan microwave.
Semua sabun, shampo, sabun cuci piring, bahkan detergen tersedia. (Handuk juga tersedia ya, yang gak ada sikat gigi dan pasta gigi, bawa sendiri). Alat masak dan alat makan lengkap, mesin cuci dan setrika tinggal pencet, alat tidur pun gak ada yang kurang.
Lengkap kan fasilitasnya.
Tapi karena lengkap, juga jadi lebih mahal harganya. Sebenarnya harganya sama dengan hotel, kalian bisa search di a*rbnb atau travel*ka, tapi yang mahal adalah biaya tambahannya yaitu cleaning fee dan service fee.
Jadi kalo kalian sendirian atau keluarga kecil tidak menyarankan untuk sewa apartemen, mending hotel aja. Tapi kalo rombongan atau bawa keluarga yang jumlahnya agak banyakan, apartemen sudah terbaik. (Kan bisa patungan 👍)

8. Tiket Atraksi atau Tempat Wisata

Masih karena ada diskonan dalam rangka perayaan Imlek, kami beli beberapa tiket atraksi atau tempat wisata jauh-jauh hari juga. Jadi dengan kode promo kami bisa dapat potongan harga yang lumayan. 
Dengan membeli tiket online di aplikasi ticketing, kalian gak perlu antri lagi di loket tiket, langsung masuk aja ke pintu masuk untuk di scan barcode yang ada di tiket onlinenya, paperless. 
Tapi jangan lupa dibaca semua syarat dan ketentuannya ya, seperti tanggal kunjungan kita kesana. Ada tempat wisata yang tiketnya bisa dipakai bahkan 2 bulan dari tanggal yang kita input. Tapi ada tempat wisata yang tiketnya cuma bisa dipakai di tanggal yang di input. Ada juga tiket yang gak bisa di redeem di tempat wisata, ada tempat khusus untuk redeem. Jadi harus hati-hati dan lebih teliti ya.
Kalo memang kalian jalan-jalannya tanpa rencana dan itenerary yang jelas, bisa beli tiket on the spot aja baik di loket tiket ataupun beli online tiket juga bisa langsung digunakan.

9. Makan dan Minum

Sebagai Muslim, kami gak cuma cari makanan yang murah ya 😂 tapi juga harus halal. Ada beberapa tempat makan yang pasang tulisan Halal seritifikat dari Majelis Ulama Singapore, tapi banyak juga yang gak ada tulisannya.
Emang paling aman itu ke tempat makan yang sudah terkenal menyediakan menu ayam, seperti kf* dan m*d, tapi mahal banget 😭. Sekali makan bisa abis $50 SGD atau sekitar 500 ribu rupiah, padahal kami budget untuk sekali makan sekitar $10-20 SGD.
Gak ada menu nasi lagi 😭😭😭. Jadi kalo makan di kf* ataupun m*d itu makan ayamnya pake kentang gaess, kentang goreng atau mashed potato. Oiya, ada yang modelan ayam juga namanya Jollyb*e dan ada menu nasi 😍 tapi tetep aja mahal 😅.
Jadi kami lebih milih ke resto-resto pinggir jalan atau resto di foodcourt yang menyediakan menu ayam. Biasanya kami memesan Chicken Rice (nasi uduk dengan ayam), nasi padang, atau nasi briyani. Orang Indonesia banget ya kemana pun yang dicari nasi 😂 sebenernya kalo kami berdua aja gak masalah mau makan apa aja, tapi si bocah gak kenyang kalo gak makan nasi dan harus seporsi sendiri 😅 jadi emang perjuangan tersendiri buat cari makan tuu.
Di beberapa tempat sudah banyak yang jual makanan Indonesia, dan yang lagi trend yaitu Ayam Penyet. 😂 (walopun ayamnya gak dipenyet, cuma ayam di sambelin gitu doang). Sampai beberapa kali kami nemuin resto khusus yang jual ayam penyet khas indonesia, dan ada resto yang menambahkan menu baru yaitu ayam penyet 😂 (tapi dimahalin).
Tips kalo di foodcourt yang campur-campur gitu, kalo memang gak ada yang pajang sticker halal, biasanya ada yang nempel tulisan "No Pork, No Lard". Atau cari yang menunya bener-bener cuma nyediain menu ayam dan sapi. Karena ada beberapa yang restonya namanya chicken blablabla tapi gambar babinya segede-gedenya 😂 lebih gede daripada gambar ayamnya.
Kalo pengen yang lebih praktis lagi, kalian bisa beli makanan instan yang tinggal dipanasin di microwave, harganya sekitar $4-6 SGD. Bisa dibeli di minimart Sevel, bahkan disediakan juga microwavenya, tinggal pencet-pencet deh.
Untuk minum, kalian gak perlu kuatir karena banyak tempat yang menyediakan tempat pancuran air minum dan untuk isi ulang botol air minum, terutama di stasiun, tempat wisata dan bandara. Jadi cukup bawa botol air minum kalian kemana-mana.
Kalo mau beli air minum botolan di minimarket juga banyak, tapi harganya sekitar $1,5-2 SGD, mahal yess ukuran botol medium aja masyak 20rebu. Tapi kami lebih sering ngisi botol air minum di hotel, apartemen,  tempat wisata dan bandara. Karena beberapa stasiun gak menyediakan tempat untuk minum, mau ngisi di kran kamar mandinya tapi tidak meyakinkan karena ada beberapa stasiun yang jorok. 😑 (Stasiunnya banyak yang bersih gaess, tapi ada yang jorok juga 😅)
Kalo punya uang $2 SGD, kami lebih milih beli jus jeruk yang ada finding machinenya. Enak dan seger banget gaess jus jeruknya (bojo sampe sekarang kadang masih sering ngidam dan masih kebayang-bayang sama rasanya 😂), tanpa gula, jadi bener-bener jeruk peras.

10. Oleh-oleh

Biasanya 

11. Toilet

 Kayaknya gak penting ya bahas toilet, tapi buat cewek-cewek terutama orang Indonesia yang terbiasa buang air kecil pake air untuk bilas toilet itu penting. Di Singapura toilet tidak menggunakan bidet atau pancuran air didalam wcnya (apalagi ember dan gayung, gak ada), kecuali di tempat wisata dan bandara. Biasanya toiletnya ada tandanya seperti ini, yang gak ada tandanya berarti hanya menggunakan tissue toilet.
Jadi sebaiknya kalian bawa tissue basah kemana-mana, terutama untuk yang gak biasa cuma pake tissue toilet aja. Karena pasti rasanya agak risih gitu ya kalo cuma pake tissue toilet, apalagi kalo BAB terus cuma dibasuh sama tissue kan gimana gitu.

12. Pulang dari Bandara Changi

Kalo kalian sudah punya list bakal bawa oleh-oleh banyak, sebaiknya kalian sudah beli bagasi saat beli tiket pulang. Karena nambah/beli bagasi di bandara lebih mahal. Dan jangan kuatir kalo kalian gak bisa ngira-ngira itu koper yang bakal masuk bagasi sudah pas atau berlebihan beratnya, karena di Changi Airport tersedia timbangan koper.
 
Banyak yang setelah timbang koper disini harus terpaksa bongkar kopernya lagi, karena yang bisa masuk kabin hanya seberat 7kg. Untuk kasus kami, kami bongkar koper lagi karena koper yang akan masuk bagasi ternyata masih bisa dimasukin 4kg lagi (kami beli bagasi 20kg) jadi biar agak enteng gitu koper yang dibawa ke kabin. (karena kami bawa stroller juga)
 
Di Changi Airport ini hampir semua Self-Service. Untuk check-in langsung pake mesin ini, tinggal masukkan kode tiket, scan pasport, keluar deh tiket dan tanda bagasinya.
Tips saat membeli tiket pulang selain membeli bagasi, tapi juga pastikan nama lengkap kalian sama persis dengan pasport, sampai nama belakang. Karena suami cuma ngisi namanya tanpa nama belakang di tiket pulang, alhasil tiketnya gak bisa keluar dari mesin karena gak sama dengan yang ada di pasport yang discan.
Akhirnya kami harus menghubungi customer service pesawat yang akan kami naiki, jadi dibantu untuk check-in manual.
Seharusnya setelah tiket dan tanda bagasi tercetak, ada antrian lagi di mesin untuk memasukkan koper ke bagasi (lagi-lagi self service). Jadi koper yang akan dimasukkan ke bagasi harus kita tempel dulu tandanya (yang biasa ditempel di pegangan koper), kemudian tinggal di scan dan masukkan kopernya ke mesin.
Imigrasinya pun self-service dong, tinggal scan pasport gitu di mesin juga. Tapi untuk yang bawa anak seperti aku harus manual ketemu sama petugas imigrasi langsung untuk di cek data dan muka anaknya. Disini petugas minta anaknya digendong (gak boleh di stroller) biar kelihatan mukanya, beda saat masuk Indonesia petugas Imigrasi bilang "gak usah digendong bu kalo berat anaknya", baik banget emang orang Indonesia.

Semoga Bermanfaat

Jumat, 03 April 2020

Keluarga biAsha Goes to Singapore



Disclaimer: Sebetulnya kami ke Singapura tanggal 6-10 Maret 2020 (bulan kemarin), baru posting karena adanya trust issues, yang kuatirnya pada nyinyir kok ke negara yang statusnya orange, nanti bawa virus Corona, dsb. Jadi kami setelah dari sana melakukan social-distancing atau self-quarantine selama lebih dari 14 hari, dan ternyata Alhamdulillah kami tidak menunjukkan ciri-ciri orang yang terkena virus corona. Sempat batuk pilek (tanpa demam) tapi mungkin karena kecapean, dan gak sampai seminggu sudah sembuh sendiri. Alhamdulillah hingga saat ini (sudah sebulan berlalu) kami masih sehat walafiat.
Karena isu virus Corona dan status Singapura yang menjadi orange, kami emang maju-mundur untuk berangkat. Tapi tiket PP, hotel, penginapan, dan beberapa tiket tempat wisata udah kebeli semua, sayang banget kalo duit belasan yuta itu hangus 😭. Ya mungkin untuk beberapa orang akan beropini, "mending gak berangkatlah, daripada nyawa taruhannya, duit bisa dicari lagi". Tapi bagi kami duit segitu ya gak sedikit 😅 ngumpulinnya gak bisa sebulan-2 bulan yess.
Jadi kami memutuskan untuk tetap berangkat ke Singapura, dengan catatan seminggu sebelumnya minum vitamin, jaga kesehatan, bawa masker dan handsanitizer, vitamin pun masih dibawa dan dilanjutkan minum disana. Kami tidak meremehkan, tetap ikhtiar, doa dan waspada.
Dari keluar rumah rasanya deg-degan terus, walaupun udah seminggu doa terus setiap habis sholat supaya dilancarkan perjalanannya, tapi kami bener-bener gak tau apa yang bakal terjadi disana karena isu virus corona ini. Bahkan sampe duduk di pesawat pun aku dan Pabeb masih saling tanya, "kita jadi berangkat nih?" 😂 sambil ketawa bareng, padahal masih dag-dig-dug.
Namanya bocah, gak betah disuruh pake masker
Landing di Bandara Changi, baru percaya "udah beneran di Singapura nih kita?" 😂😂😂.
Keluar dari pesawat udah disambut dengan thermo-scanner, yang pake topi supaya dilepas agar terdeteksi dengan benar, sedangkan anak-anak diukur sendiri suhu tubuhnya dengan thermo-gun.
Ada kejadian lucu waktu saling tunggu gantian ke kamar mandi. Ada seorang mbak-mbak berjilbab menghampiriku dan bertanya, "sorry miss, where is Eii Delapan Belas?" sambil menunjukkan tiketnya yang ada tulisan "A-18". 🤭 Aku buka maskerku agar terlihat kalo kami sesama orang Indonesia, gak perlu sungkan dan gak perlu pake bahasa Inggris yang dicampur bahasa Indonesia. Setelah aku tunjukkan pintu A-18 pake bahasa Indonesia, dia bilang "ooo disitu ya mbak, makasih". 😁 Ketemu sama orang yang sebahasa di negara orang aja udah seneng banget lho aku, sereceh itu. 🙈
Sangking bagusnya Changi Airport, sibuk poto-poto sampe gak tau kalo sebelum keluar melalui Imigrasi kita harus ngisi form putih yang tersedia di pinggir-pinggir dekat dinding.
Sok-sokan langsung ke bagian Imigrasi tanpa bawa form sampe ditanyain petugas Imigrasi, "orang Singapore? Atau ada saudara disini? Mana form putihnya?" (kebetulan petugasnya orang melayu). Setelah sadar baru deh balik lagi ambil formnya dan diisi.
Form berisi data diri kita orang asing yang masuk ke negara Singapura. Kalo gak bisa bahasa inggris tenang aja, disitu juga disediakan terjemahan form dalam berbagai bahasa, kita tinggal lihat terjemahan dengan bahasa melayu yang masih mirip-mirip sama bahasa Indonesia.
Nama, Nomor Paspor, Tempat Tinggal, Tempat Tinggal di Singapura (biasanya nama hotel, tapi karena kami tinggal di apartemen jadi kami tulis alamat apartemennya), Dari Kota mana, Akan Ke Kota mana (mungkin bagi yang masuk Singapura untuk negara transit aja, karena kami memang tujuannya cuma ke Singapura jadi ya ditulis dari JAKARTA, setelah dari Singapura ke JAKARTA.)
Setelah semua terisi, baru deh lewat bagian Imigrasi untuk diperiksa form yang sudah diisi tadi, paspornya, kemudian cap dua jempolnya. Untuk yang bawa anak biasanya diminta untuk digendong karena pegawai Imigrasi ingin lihat jelas muka anaknya sama gak dengan poto yang ada di paspor.
Keluar dari Imigrasi kita akan dikasih sobekan formnya, dan harus disimpan selama kita masih ada disana.
Oiya, yang beda di tahun 2020 ini ada jalur khusus untuk pendatang yang dari atau transit di negara-negara tertentu terkait pandemic virus Corona atau Covid-19. Bagi pendatang dari negara China, Iran, Italy, dan Korea Selatan (ataupun sempat transit dari negara tersebut), harus melalui jalur khusus di Imigrasi, yang mungkin akan di tes kesehatannya dan lain-lain.

Setelah keluar dari Imigrasi kami menuju ke terminal 1 sambil nyoba ngambil uang di ATM.
Jadi ceritanya sebelum kami ke Singapore sengaja bikin akun bank Jenius yang lagi rame kekinian, karena memang beberapa fungsi yang disediakan untuk mempermudah di luar negeri. Emang gampang banget fitur-fitur di aplikasinya, kita bisa cek kurs mata uang, kalo udah cocok bisa langsung tukar mata uang yang ada di tabungan jadi mata uang negara yang dipengen, kemudian bisa ditarik di ATM di negara tujuan, bahkan juga bisa dipake untuk kartu transportasi di Singapura. (Gak endorse ya ini, tapi emang kebantu banget)
Kami gak bawa dollar Singapura sepeser pun, semua duit udah dituker ke Dollar Singapura tapi masih di kartu debit. Pas mau ambil di ATM bandara, eh gak bisa dong, kesalahan Pabeb sih gak usah dicritain nanti dia malu 😂😂😂.
Berkali-kali ganti ATM tetep gak bisa keluar tu duit, panik karena semua duit disana. Aku mencoba tenang, "udahlah yuk ke Jewel Changi dulu, kita udah sejam stuck disini ngabisin waktu."
Pabeb masih panik, bingung gak bisa ke hotel karena gak ada duit sepeser pun. Ya nanti dipikir lagi, sekarang jalan dulu ke Jewel yang masih jauh tempatnya, kubilang.
Jewel Changi letaknya berada di terminal 1, jadi kalo pesawat kalian turun di terminal 2 atau terminal 3 seperti kami, tinggal cari aja jembatan penghubung ke terminal 1 yang cuma berjarak 5-10 menit jalan kaki (tenang ada eskalator jalan juga kok biar gak capek banget). Kalo turunnya di terminal 4 ada shuttle bus gratis untuk ke terminal 1.
Letak Jewel Changi paling ujung kiri, jadi kalo keluar dari kedatangan cari aja jalan ke kiri terus sampe mentok, nanti baru kelihatan petunjuk arahnya. Jembatan menuju Jewel Changi juga lumayan ya, walaupun ada eskalator jalannya juga.
Pas udah kelihatan air terjunnya, MasyaaAlloh awww cakeup banget 😍.

Pengalaman Melahirkan Anak Kedua dengan Metode ERACS

 Beberapa hari sebelum lahiran, ada video viral seorang artis yang mengaku 2 jam setelah melahirkan secara C-section sudah bisa duduk, 4 jam...