Senin, 18 Oktober 2021

Pengalaman Melahirkan Anak Kedua dengan Metode ERACS

 Beberapa hari sebelum lahiran, ada video viral seorang artis yang mengaku 2 jam setelah melahirkan secara C-section sudah bisa duduk, 4 jam pasca persalinan sudah bisa berdiri dan berjalan, bahkan 2 hari pasca persalinan sudah bisa joget-joget. Jadi penasaran? Apa bener bisa beraktivitas dalam sekejab gitu ya? Pasca persalinan C-section loh ini, yang biasanya baru bisa belajar jalan 2 hari setelah persalinan. 🤔

Ternyata si artis ini melakukan persalinan dengan metode ERACS atau Enhanced Recovery After Cesarean Surgery. Suatu metode baru dalam tindakan operasi caesar sehingga dapat mempercepat penyembuhan Ibu pasca operasi, bahkan memperpendek masa perawatan Ibu di rumah sakit. Yang membedakan metode ERACS ini dengan operasi caesar biasa adalah anestesinya.

Setelah mencari tau kesana kemari ke bagian Martenal beberapa rumah sakit di Malang Raya, ternyata yang sudah menerapkan metode ERACS ini cuma RSU Hermina Tangkubanprahu.  Long story short (yang akan aku ceritakan lebih detail disini), aku memilih lahiran dengan metode ERACS di RSU Hermina Tangkubanprahu, Malang.

Sebelum Persalinan

Di masa pandemi yang belum berakhir ini, tentu saja harus melakukan berbagai tes sebelumnya, gak cuma tes darah di lab, tapi juga foto thorax di radiologi dan yang paling penting tes swab PCR covid-19. Alhamdulillah semua bagus dan hasil tes PCRnya negatif.

Karena operasi dijadwalkan pukul 7 malam, aku sudah mulai puasa dari jam 1 siang setelah makan.

Jam 4 sore, dokter anestesi berkunjung ke ruang rawat inap untuk memeriksa kondisiku karena memang belum sempat bertemu untuk konsultasi. MaasyaAllah, dokternya ramah dan baik sekali. Gak cuma menjelaskan prosedur anestesi yang nanti akan dilakukan saat operasi, tapi juga menyemangati agar tidak takut karena kata beliau, "persalinan itu operasi yang menyenangkan, tidak seperti operasi penyakit yang lain". Karena setelah operasi Caesar kan kita bertemu buah hati yang dinanti selama ini. Terima kasih banyak dr. Hari Bagianto, Sp. An. (K) bertemu sebentar saja, tapi kata penyemangatnya begitu hangat. 

Dokter menjelaskan bahwa perbedaan metode ERACS menggunakan anestesi dengan dosis minimal sesuai kondisi pasien. Itulah sebabnya seharusnya sebelum melakukan operasi dengan metode ERACS harus konsultasi terlebih dahulu dengan dokter anestesi, karena kondisi kesehatan setiap orang berbeda dan itu berpengaruh apakah cocok untuk melakukan persalinan dengan metode ERACS atau tidak.

Dengan anestesi dosis minimal, pasien akan lebih cepat untuk beraktivitas lagi. Berbeda dengan metode konvensional yang mana pasien baru bisa bergerak setelah 12 jam, itupun hanya sedikit memiringkan badan saja. Setelah 24 jam baru belajar duduk, dan hari berikutnya belajar jalan.

Kalo dosis minimal apa gak malah lebih sakit dok? "Rasanya seperti dipegang, terasa tapi gak sakit kan?"

Oiya, seharusnya puasa cuma gak boleh makan saja, kalo minum masih boleh, bahkan sebelum operasi disarankan minum yang manis agar ada tenaga. Tapi entah kurang kordinasi atau belum banyak yang menggunakan metode ini, jadi suster yang merawat aku gak ngebolehin minum dan gak ngasih minuman manis sebelum operasi seperti yang dokter bilang. Dan mungkin juga karena itu yang bikin dampak pasca operasi.

Proses Persalinan

Setelah diberi obat pelapis lambung, anti mual, dan antibiotik yang disuntikan di infus, dipersilahkan masuk ke ruang operasi. Oiya, sebelumnya aku transfusi darah juga 2 labu, seperti lahiran yang pertama, karena Hb rendah. 🥲

Seperti operasi SC pada umumnya yang dilakukan pertama adalah suntik anestesi di tulang belakang, yang membedakan adalah dosisnya (dokter anestesi yang lebih paham). Setelah dirasa kaki mulai terasa panas dan kesemutan, para suster mulai memasangkan kateter dan memulai persiapan operasi.

Proses operasi berjalan cepat, tiba-tiba meja operasi bergoyang hebat saat si bayi dikeluarkan dan syukur Alhamdulillah bayi dalam keadaan sehat, terdengar dari tangisannya.

Rasanya gimana? Beda gak sama lahiran konvensional atau lahiran yang pertama? BEDA! Beda banget. 

Betul kata dokter, gak sakit tapi terasa. 

Rasanya itu kayak bagian tubuh yang kebas kesemutan, dipegang terasa, tapi kebas. Saat proses operasi terasa seperti dipegang-pegang, ditekan-tekan di bagian perut dan kaki. Bahkan saat bayi ditarik keluar dari perut itu terasa, tapi sekali lagi gak sakit sama sekali. Bener-bener sensasi tersendiri dan pengalaman baru yang gak terlupakan.

Saat proses penutupan perut (gak tau istilahnya apa 🤭) lumayan lama ya, padahal rasanya udah lemes banget dan bahkan ada rasa mual. Bisa jadi karena gak dikasih minuman manis untuk tenaga itu, ntah, pokoknya proses persalinan dengan metode ERACS ini lumayan menguras tenaga banget karena kita masih bisa merasakan. Beda dengan metode konvensional dengan bius maksimal yang kita gak merasakan apa-apa, paling pasca operasi cuma ngantuk banget.

Pasca Persalinan

Selesai operasi sekitar jam setengah 9 malam, aku dipindahkan ruangan untuk menunggu IMD dengan bayi, sekaligus mulai dilatih untuk menggerakkan kaki. Sekitar jam 10 malam bayi diberikan untuk IMD, sekaligus kaki sudah bisa bergerak dan mulai bisa terangkat. Keren banget, pikirku. Dulu lahiran yang pertama, saat IMD ya masih ada biusnya, separuh badan kebawah belum bisa bergerak.

Sekitar jam setengah 11 suster membantu untuk belajar duduk. Wah, ternyata tak semudah itu gaess. Waktu tempat tidur diangkat pelan-pelan ke mode duduk, kepala rasanya terbang, pusing, geliyeng kalo bahasa jawanya. 

Kok geliyeng ya sus? "Oke, istirahat sebentar ya bu sampai pusingnya mendingan, nanti baru kita belajar jalan".

Setengah jam kemudian, suster kembali dan mencoba membimbing untuk belajar menapak dulu. Eh lha kok sekarang malah mual.

Yang awalnya cuma dikasih air putih, sekarang ditambah teh manis hangat. Suster suruh istirahat lagi setengah jam, agar mualnya hilang.

Walaupun disuruh istirahat, tapi aku tetep coba-coba untuk duduk (gak bersandar), nyoba untuk nurunin kaki (tapi belum napakin kaki), tetep aja pusing dan mual. Bahkan akhirnya aku muntah. (Untung udah disiapin wadah untuk muntah)

Tapi setelah muntah malah justru mendingan, badan mulai enakan, pusing perlahan hilang, sudah gak mual lagi. Aku ngerasa udah siap untuk belajar napakin kaki. Dan HUP... yak kaki berhasil napak dan berdiri.

Ternyata cukup bisa napakin kaki atau berdiri aja dulu, berarti sudah bisa jalan, kata suster nanti aja belajar jalan sendiri aja di kamar kalo sudah baikan pusing dan mualnya, dan kalo sudah makan. Jam 1 pagi, aku sudah masuk ke ruang opname dan diberi makan malam. Tepat sekitar 4 jam pasca operasi.

Rasa pusing dan mual masih ada sedikit, yang pasti ditambah lemas dan ngantuk. Makan sedikit-sedikit karena masih ada rasa mual, diselingi tidur sedikit-sedikit karena ngantuk banget. Makanan baru habis menjelang subuh. 😅

Setelah makan pagi dan merasa badan udah mulai kuat, aku mulai belajar jalan sendiri. Bener aja, kalo sudah bisa atau kuat napakin kaki pasti bisa jalan. Aku mulai belajar untuk banyakin aktivitas sendiri, jalan muter-muter kamar, bahkan beres-beres kamar. 😅 Emak-emak ya..gak bisa liat ada yang berserakan dikit.

Sakit gak? Jalannya ya gak sakit, kalo perut pasca operasi ya tetep ada sakit-sakitnya kayak biasa. Kalo kata orang Jawa, rasanya perut kayak mau ambrooll (tumpah). 🤣

Siangnya saat pemeriksaan rutin, suster bilang kalo sudah kuat jalan kateter bisa dilepas, resikonya harus riwa-riwi ke kamar mandi sendiri kalo kebelet pipis. Langsung aja kubilang lepas aja sus 🤭 udah bisa jalan muter-muter ini.

Keren banget emang metode ERACS ini, belum 24 jam rasanya udah kuat ngapa-ngapain, ya bener aja kalo si artis itu bisa langsung joget-joget 🤣. Bahkan aku sudah minta pulang besoknya karena udah berasa kuat aja, eh ternyata gak boleh dulu karena si bayi harus di observasi 2x24 jam pasca lahir, kalo ibunya aja mau pulang boleh, ya gak mungkin kan pulang sendiri-sendiri. 😅 

Noted

Gak perlu ragu sih buat kalian yang pengen melakukan persalinan dengan metode ERACS ini, seperti kata dokter, Berasa tapi gak sakit.

Yang perlu diperhatikan sebelum melakukan persalinan ini:

● Yang pasti konsultasikan dengan dokter kandunganmu, apakah kondisimu memungkinkan untuk melakukan metode persalinan ini. Dokter kandungan pasti lebih tau kondisi kesehatan tubuh dan janinmu.

● Konsultasi juga dengan dokter anestesi yang bisa melakukan metode ERACS ini, karena gak semua dokter anestesi bisa dan pernah melakukan anestesi untuk persalinan ERACS. Dokter anestesi juga akan melakukan pemeriksaan kondisimu apa cocok dengan anestesi dosis minimal itu.

● Kata dokter puasanya boleh minum sedikit-sedikit, bahkan sebelum operasi disarankan minum minuman manis untuk tenaga. Coba deh minta kalo gak dikasih 😅 bener-bener biar ada tenaga aja (terakhir makan jam 1 siang, makan lagi baru jam 1 pagi, lemes juga habis lahiran)

● Kondisi tiap orang (pasien) berbeda-beda. Ada yang setelah operasi seperti aku yang pusing, mual dan muntah. Tapi ada juga yang bisa langsung duduk dan berdiri tanpa kendala, kuat-kuat aja. 


Terakhir, terima kasih banyak kepada dr. Prita Muliarini, Sp. OG (K) yang sudah membantu proses persalinan 2 anakku sehingga bisa lahir dengan selamat ke dunia ini. Beserta para suster, bidan dan staf RSU Hermina Tangkubanprahu yang sudah membantu dan merawat aku dan bayi selama dirawat disana. Terima kasih banyak.

1 komentar:

  1. Wah terimakasih atas sharing pengalamannya ya kak, insight baru buatku karna rencana kehamilan ke-2 ini jg mau konsul ke dr.Prita, tp masih mau menimbang2 mau ERACS atau konvensional. Boleh saya kontak kakak further utk sharing terkait pengalaman ERACSnya kak? Terimakasih sebelumnyaa... :))

    BalasHapus

Pengalaman Melahirkan Anak Kedua dengan Metode ERACS

 Beberapa hari sebelum lahiran, ada video viral seorang artis yang mengaku 2 jam setelah melahirkan secara C-section sudah bisa duduk, 4 jam...